KEMATIAN
Kematian Oleh: T. W. Adji Anas bin Malik RA berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu Hibban). Cukuplah kematian itu sebagai nasehat. Ruh Manusia hidup abadi dengan melalui perjalanan berbagai alam. Kalau begitu apa bedanya dengan Allah yang juga abadi? Kalau Allah abadi dengan tiada awalnya, sedangkan manusia itu abadi dengan ada awalnya. Saat ini kita hidup di alam Dunia yang bersifat sementara, fana, fatamorgana, maya dan memperdaya lalu kemudian kita semua mati, berpisahnya ruh dari jasad, lalu kita masuk ke alam yang sepenuhnya asing: alam kubur / alam barzah, untuk lama waktu yang tiada kita ketahui mungkin ratusan atau bahkan ribuan tahun, yang jauh lebih lama dari lamanya kita hidup di Dunia; • Sebelum kematian, dunia ini nyata, akherat itu hanya cerita. • Setelah kematian, dunia ini hanya cerita, akherat itu nyata. Mengapa saya menyapa Anda dengan diksi: “Saudara Ahli Sorgaku”? Karena semua Muslim pasti menjadi Ahli Sorga, siapapun yang pernah ber-Syahadatain pasti masuk Sorga, walau mungkin sebagiannya “mampir” terlebih dahulu di Neraka. Neraka diadakan sebagai proses penyucian dosa-dosa kita. Kita harus kembali suci kalau mau kembali kepada Allah Yang Maha Suci. • “Barang siapa yang meninggal dan dia bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hatinya, maka dia masuk Sorga.“ (HR. Imam Ahmad) • Dari Anas RA, Nabi SAW bersabda: “Akan keluar dari Neraka orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah,’ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karenanya, kematian adalah hadiah terindah bagi kita. Mengapa? Karena kita keluar dari penjara Dunia dan masuk ke Sorga yang penuh kenikmatan tak terbayangkan serta akan bertemu dengan yang paling kita cintai dan rindukan: Allah dan Rasul-Nya. • Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan Sorga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392) • "Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman." (HR. Ibnu Abu Dun-ya dan Ath-Thabrani). Dasar dalil Al Qur'an & Al Hadits yang mewajibkan kita mewaspadai kematian lalu mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya; • "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke Sorga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS 3/185) • Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS 29/57) o Refleksinya: Dimasa depan tiada yang paling pasti kecuali kematian, sudah siapkah kita? • "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS 59/18) o Refleksinya: Sudahkah kita memperhatikan dengan teliti apa yang telah kita perbuat untuk hari esok (kehidupan setelah mati)? • "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS 3/102) • "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah Syetan”. (QS 2/208) o Refleksinya: Sudahkah selalu berkeadaan sebagai Muslim, hingga saat ajal kematian kita tiba? o Refleksinya: Sudahkah Islam kita kaaffah (menyeluruh / totalitas) dari lahir hingga kematian kita? o Refleksinya: Sudahkah kita mempersiapkan kematian dengan makam & pemakaman yang benar-benar Kaaffah Islamnya? • “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akherat.” (HR. Ibnu Majah) • Sahabat bertanya kepada Rasulullah Sholallahu 'Alaihi was Salam: Siapakah orang yang paling cerdas? Mereka adalah orang yang paling banyak mengingat kematian, kemudian mereka yang paling baik mempersiapkan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas. (HR Ibnu Majah No 4259) o Refleksinya: Seberapa sering kita mengingat kematian? o Refleksinya: Sudah siapkah kita menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya? Kalau kita siap menghadapi kematian, maka jiwa kita akan tenang. • QS. Al-Fajr (89): 27-30: "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke Sorga-Ku." Inilah kematian sebagai momen kepulangan yang indah bagi jiwa yang tenang.
Taman tenang
© 2025. All rights reserved.
